Right VS Left

Kanan Vs Kiri.. maksudnya apa nih? kembali dalam konteks kehidupan kira-kira kanan itu diibaratkan "si otak kanan" dan kiri itu "si otak kiri" kira-kira mana yg lebih dahsyat dampaknya?? *gausah ditanya juga tau lah jawabnya* ya dua duanya dong kita sinkronisasi, namun kebanyakan  disekolah-sekolah saat ini dari SD hingga Perkuliahan dominan otak kiri terus yg digerakan, kapan otak kanan? yaaa waktu kita masih di TK. jamannya masih demen berkhayal ngalor-ngidul. seiring dengan petumbuhan kita menuju dewasa kita sering banget dicekoki kata-kata "tidak mungkin"..."oooo tidak bisa" ... "jangan"..."nanti gagal loh".. blablabla.

kiri (terkotak-kotak), kanan (tak beraturan)


 kita semakin didera rasa kekhawatiran memuncak oleh apa pendapat orang lain mengenai sesuatu. padahal? ITU CUMA PENDAPAT ORANG!! kiri itu dunianya orang-orang berlogika yg rajin menghitung dan kanan itu dunianya makhluk spiritual *manusia makhluk berlogika atau makhluk spiritual sih?*


sedikit tentang si kanan

who's right? (yg mana yg kanan? haha)


coba deh berpergian melewati jalan tol, disitu terpampang "lajur kanan untuk mendahului" .. maksudnya "otak kanan untuk mendahului".. liat jam deh muternya kekanan atau kekiri? gausah jauh-jauh deh burung garuda indonesia aja madep kanan bukan madep kiri. dalam bahasa inggris aja RIGHT (kanan atau benar) lah kalau LEFT (yg tertinggal, kiri) huahahaha... hanya intermeso :)

di agama islam, kristen maupun bangsa cina... bukankah kanan itu lebih didahulukan dari pada kiri? coba tengok deh Nabi Muhammad, beliau lebih mendahulukan yg serba kanan bukan? apalagi dalam kitabnya ada "golongan kanan".. kanan sering kali dijabarkan dan dianalogikan dengan hal yg baik-baik bukan?

tapi entah kenapa setelah masuk kedunia mayoritas kental sekali ke kirian mereka, misal kiri : minta dulu -> dikabulkan -> barulah ia bersykur. kanan : bersyukur dulu -> meminta -> dikabulkan. sering kali orang-orang kiri itu lebih mendahulukan yg rasional. speak-speaknya mereka seperti beribadah si beribadah namun tidak BERIMAN! maksudnya? yaiyala.. biasanya si kiri itu lebih mendahulukan yg bisa di nalar dalam segala hal, mereka meniscayakan hal-hal yg diluar logika mereka. orang beriman kan mempercayai apapun yg bisa dilakukan TUHAN-NYA? termasuk hal-hal yg mereka niscayakan sebagai hal yg tidak mungkin? betul?

GIMANA DONG CARANYA NGASAH KEKANANAN?

high tech vs high touch


apabila kita ingin mengasah ke khasan si otak kanan cukuplah "do what you love" .. pasalnya si kanan itu sudah terbiasa dengan beroperasi secara menyeluruh (holistik), menyebar (difus), serentak (paralel), dan acak (lateral). berbeda dengan si kiri yg berkebalikannya, nyatanya saat ini mayoritas orang menghamba pada pendidikan yg berlatar belakang "otak kiri" pada zamannya sih sah-sah saja, ini abad 21 bukannya jamannya lagi high tech lebih kepada high touch. bagaimana jika si high tech dibalut dengan high touch? nah itu intinya guys! awali dengan yg kanan-kanan, hal ini sama sekali bisa dibilang punah dalam kehidupan mayoritas, sering kali yg kreatif itu dianggap gila (menurut saya sih mereka yg gila, melakukan hal yg itu-itu aja sama kayak generasi jamannya dia yg dulu. BASI GAK KREATIF), mulai dengan yg kanan-kanan lebih dahulu baru diisi dengan kiri, coba deh dalam pemasaran desain penting gak? desain dulu yg bagus (biar menarik para peminat) barulah di sinergikan dengan si content, gak percaya? tengok aja butik Giorgio Armani setiap barang yg ditempel dengan namanya harganya menjadi bukan main. tahun 1994, logo dan karakter The Lion King dilisensikam pada 5.000 jenis produk senilai $1M. ayolah guys jamanya edan gini hendaklah menkanan-kanankan diri, action RIGHT and get it RIGHT man! -(terinspirasi dari mas @ipphoright masternya otak kanan)

Kisah Sukses Si "Lele-Lela"

Kisah Sukses Si "Lele-Lela"

Si LELA milkinya @ranggaumara

Sebelum di-PHK dari jabatan manajer di sebuah perusahaan, Rangga Umara (31) memilih jualan pecel lele di pinggir jalan. Modal cekak membuat ia terjerat hutang renternir. Bagaimana jatuh-bangun Rangga membangun usaha bisnis RM Pecel Lele Lela? Yuk, simak kisahnya.

”Selamat Pagi!” Begitu sapaan khas di RM Lele LELA (LEbih LAku), begitu Anda masuk ke sana. Tak peduli Anda datang pada pagi, siang, sore, atau malam, tetap disambut dengan ucapan, “Selamat pagi!”

Begitulah aku “mendoktrin” stafku dalam menyambut tamu di rumah makan Lele Lela milikku. Hal itu kulakukan agar para karyawan termotivasi dan produk yang disediakan selalu segar seperti segarnya suasana pagi hari.

Lela bukanlah nama istri atau anak-anakku, melainkan singkatan dari Lebih Laku. Oh, ya, kenalkan, namaku Rangga Umara. Meski usiaku tergolong muda, 31 tahun, pahit getirnya membangun usaha sudah kurasakan sejak bertahun-tahun lalu, sebelum akhirnya RM Pecel Lele Lela dikenal luas. RM ini kudirikan sejak Desember 2006. Bolehlah kini dibilang sukses. Sebab, aku telah melewati masa - masa sulit. Karena itu, aku lebih bisa menghargai jerih payahku, menghargai hidup dan orang lain.

Profesi yang kugeluti ini bisa dibilang melenceng dari pekerjaan bapakku, Deddy Hasanudin, seorang ustadz dan ibuku, Tintin Martini, pegawai negeri yang sebentar lagi bakal memasuki masa pensiun.

Dulu, cita-citaku memang menjadi pengusaha. Namun, entah kenapa akhirnya aku kuliah di sebuah perguruan tinggi di Bandung Jurusan Manajemen Informatika. Ilmu akademis ini mengantarku bekerja di sebuah perusahaan pengembang di Bekasi sebagai marketing communication manager di perusahaan itu.

Sayang, setelah hampir lima tahun bekerja, kuketahui kondisi perusahaan sedang tidak sehat. Hal itu membuat banyak karyawan di-PHK. Saat itulah aku tersadar, aku tinggal menunggu giliran. Karena itu aku mulai memikirkan lebih serius soal rencana hidupku berikutnya. Yang jelas, saat itu yang terpikir olehku, tak ingin lagi menjadi karyawan kantoran karena sewaktu-waktu bisa menghadapi masalah PHK lagi.

 Nekat Wirausaha

Akhirnya, aku bertekad ingin membuka usaha sendiri. Sayangnya aku bingung mau berbisnis apa. Sebelumnya, aku pernah membuka beberapa usaha kecil-kecilan, antara lain penyewaan komputer, tapi bisnisku selalu gagal. Setelah kupikir-pikir, kuputuskan membuka usaha di bidang kuliner. Alasannya sederhana saja, aku suka sekali makan.

Aku memilih membuka warung seafood seperti yang banyak ditemukan di kaki lima. Modalku hanya Rp 3 juta. Uang itu kuperoleh dari hasil menjual barang-barang pribadiku ke teman-teman, antara lain telepon genggam, parfum, dan jam tangan. Sampai sekarang, barang-barang itu masih disimpan mereka, katanya buat  kenang-kenangan. Istriku, Siti Umairoh yang seumur denganku, mendukung keputusanku.

Awalnya, ia pikir aku hanya berbisnis sampingan saja seperti sebelumnya, karena aku mulai berjualan sebelum mengundurkan diri dari perusahaan. Ia kaget ketika aku benar-benar menekuni bisnis ini, meski tetap saja ia mendukung.

Yang keberatan justru orang tuaku. Mungkin mereka khawatir memikirkan masa depan anaknya yang jadi tidak jelas. Maklum aku yang sebelumnya kerja kantoran dengan berbaju rapi, malah jadi terkesan luntang-lantung tidak jelas.

Warung semi permanen berukuran 2x2 meter persegi kudirikan di daerah Pondok Kelapa. Lantaran modal pas-pasan, aku mencari yang sewanya cukup murah, sekitar Rp 250 ribu per bulan. Aku mempekerjakan tiga orang, dua di antaranya adalah suami-istri. Berbeda dari warung seafood di kaki lima yang umumnya bertenda biru dan berspanduk putih, warungku kudesain unik.

Ternyata, desain unik tak membantu penjualan. Tiga bulan pertama, hasil penjualan selalu minus. Tak satu pun pembeli datang. Aku mencoba berbesar hati, mungkin warungku sepi lantaran banyak yang tidak tahu keberadaan warung tendaku itu. Aku mulai melirik lokasi lain yang lebih ramai. Kutawarkan sistem kerjasama dengan rumah makan dan warung lain, tapi selalu ditolak.

Sampai suatu hari, aku mendatangi sebuah rumah makan semi permanen di kawasan tempat makan, masih di kawasan Pondok Kelapa. Seperti yang lain, pemilik rumah makan ini juga menolak tawaran kerjasamaku. Ia justru menawariku membeli peralatan rumah makannya yang hendak ia tutup lantaran sepi pembeli. Aku menolak, karena tak punya uang. Akhirnya, ia menawarkan sewa tempat seharga Rp 1 juta per bulan. Aku pun setuju.

Mirip Pisang Goreng

Bulan pertama buka usaha, mulai tampak hasilnya. Pembeli mulai berdatangan. Aku tahu, usaha yang bisa sukses dan bertahan adalah usaha yang punya spesialisasi. Kuputuskan untuk berjualan pecel lele, makanan favoritku sejak kuliah. Ya, semasa kuliah dulu, aku rajin berburu warung pecel lele yang enak. Kupikir, orang yang khusus berjualan makanan dari lele belum ada.

Lagi-lagi, nasib baik belum sepenuhnya berpihak kepadaku. Begitu aku berjualan lele, yang laku justru ayam. Kalau menu ayam habis, pembeli langsung memilih pulang. Namun, aku tak mau menyerah. Karena aku tahu lele itu enak. Jadi, ketika para pembeli duduk menikmati hidangan, aku berkeliling meja, minta mereka mencicipi lele hasil masakan kami. Syukurlah, mereka berpendapat masakannya enak.

Dari situ, aku berusaha lebih giat untuk memperkenalkan masakan lele. Aku berusaha menonjolkan kelebihan lele yang terletak pada dagingnya yang lembut dan gurih. Untuk menutupi kekurangan tampilan fisik lele yang mungkin kurang menarik, lelenya aku baluri tepung lalu digoreng. Hasilnya? Gagal total!

Kuamati lele berbalur tepung itu. He..he..he.. ternyata memang mirip pisang goreng. Aku pantang  menyerah. Kucoba lagi menggoreng lele dengan tepung. Kali ini, digoreng dengan telur dan melalui beberapa kali proses. Alhamdulillah, sukses! Pembeli makin suka makan lele olahan kami. Pelangganku yang suka makan ayam, mulai beralih ke lele tepung.

Setelah tiga bulan pindah ke tempat baru itu, pendapatan rumah makanku meningkat menjadi Rp 3 juta per bulan. Aku sangat bersyukur. Dari situ aku berpikir untuk lebih total menekuni bisnis ini. Apalagi bila dibandingkan dengan penghasilanku sebagai karyawan kantoran yang cuma “tiga koma”. Maksudnya, setelah tanggal tiga, lalu “koma” Ha… ha.. ha…

 Terjebak Rentenir

Tahu usahaku laris, pemilik rumah makan menaikkan biaya sewa jadi dua kali lipat, yaitu Rp 2 juta per bulan. Aku mulai merasa seolah-olah bekerja untuk orang lain karena hasil yang kuraih hanya untuk membayar sewa tempat.

Masalah bertambah lagi karena aku juga harus memikirkan gaji karyawan. Kuputar otakku guna mendapatkan uang untuk membayar gaji karyawan. Aku sudah mantap tidak akan kerja kantoran lagi. Sebab ada tiga orang karyawan yang menggantungkan nasibnya padaku.

Aku mencoba tetap bertahan, walaupun pendapatanku masih minus. Saking pusingnya, di awal 2007 aku nekat berhutang pada seorang rentenir sebesar Rp 5 juta, sekadar untuk menggaji karyawan. Aku berprinsip,  dalam kondisi seperti apa pun, karyawan tetap harus diprioritaskan *bersambung*

beliau sedang demam, tetap tersenyum☺







♠ INSIGHT
          
        Setelah beberapa hari ini mengikuti kisahnya si kang Rangga di twitter melalui hashtag #DB kita bisa memetik banyak pelajaran, ini beberapa tweet beliau melalui bumbu-bumbu yg ditaro dalam kisahnya‘’Menang dulu melawan PIKIRAN, Lalu Menang pada KENYATAAN....‘’Orang bilang kita akan tersadar pada titik nadir atau ada yg bilang Breakthrough dsb... Tapi untuk sampe ke Titik itu kita harus punya kisah masing-masing...momentumnya ngga bisa dateng sendiri.. Percaya deh survey membuktikan kalo momentum itu ngga akan pernah dateng kalo kita selalu cari aman alias enjoy di Zona nyaman..‘’ -diunduh dan disimak langsung kisahnya dari twitter tersangka @ranggaumara

Burger Nasi Indonesia

hmmm... Burger Nasi ?? apaan tuh dari namanya aja kita udah tau duluan bukan? dari burger juga nasi. unik, keduanya sama-sama makanan pokok yg digemari saat ini, burger sekarang marak dimana-mana hanya saja kurang kreatif, kurang gereget, kurang menggeliat jika kita menyajikannya saja sama seperti usaha burger sejuta umat lainnya, nah si BURGER NASI INDONESIA ini menghadirkan wajah freshnya, selain ekonomis (murah) juga praktis (yaa, hajar burgernya dapet juga nasinya).. yaaah mirip-miriplah seperti pepatah ini “sekali menyepak dua tiga pula terlampaui“ hehehe..

nih testimoni dulu dari si pemilik usahanya :

       "Awalnya .... saya tuh emang seneng makan nasi tapi juga kepingin juga makan burger tapi kalau lagi diluaran (sekolah/nongkrong sama teman) makan nasi karena budget beli burger roti udah terkuras, kalau makan burger roti ya nanggung nanti gak sampai 4 jam udah LAPARRRR!!! itulah antara perut saya dan masa lalu saya *sadis juga yaa*




MUANTAAP!!


                   Tapi moment starting buat usaha ini adalah saat saya mau bangkrut, ya saya pernah punya cafe omsetnta pas-pasan tapi tidak buat kreatifitas saya pas-pasan juga dong, sebenernya saya lebih ingin menggunakan kata-kata Ayo bergerak, berinovasi dari pada menggunakan kata BANGKRUT 


            Jadi salah satu menu yg ada di cafe saya rubah jadi apa yg ada dibenak saya, bagaimana agar orang mau membeli, tak ingin tanggung-tanggu saya malah tidak menunggu jaga gawang di cafe, saya rubah strategi penjualan, dari cafe menjadi outlet di tempat-tempat strategis...

     Karena niat maka saya mulai menerapkan sistem FRANCHISE yaitu bussiness opportunity, semoga semakin banyak orang yg suka makan nasi dan mencintai nasi sebagai produk pangan kita, yg paling penting kita menghargai jerih payah petani-petani kebanggan kita" - sumber www.forumwaralaba.com


maknyos!!

monggo di caplok juragan..









INSIGHT
        
        Ada peluang disetiap masalah, mau sukses ya cari masalah simple to? gak sesimpel itu sih dalam konteks EKSYENNYA, yg pasti konsisten aja dengan apa yg kita kerjain.. mau bisnis modal dengkul juga bisa, hanya saja seringnya otak kita tuh IN THE BOX terus.. bahwa kalo mau usaha dibutuhkan modal yg GUEDE berpikir WITHOUT THE BOX dong, banyak kok usaha modal nekat juga sukses, wong TUHAN itu Maha-Nya Maha kan? kalo percaya TUHAN ngasih Rezeki ngapain takut ngelangkah? kata si NIKE aja  Just Do It nanti dapet DUIT hehe...